19.11
2



Oleh: Danang Pamungkas/Pendidikan Sosiologi 2012
Komisi 3 DPM KM FIS UNY 2014

Antonio Gramsci merupakan tokoh eksponen Marxisian dengan teori dan pandangan yang terkenal tentang hegemoni dan revolusi sosial. Gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar pada kepentingan ekonomi saja, akan tetapi juga berakar juga pada kebudayaan dan politis. Dalam system kekuasaan yang fasistis suatu rezim akan memakai dua jalan penguasaan, 1.) Penguasaan kesadaran melalui jalan pemaksaan dan kekerasan ; 2.) Penguatan lewat jalan hegemoni yaitu kepatuhan dan kesadaran para elemen masyrakat. Yang menjadi fokus analisis Gramsci adalah bagaimana mematahkan rantai hegemoni ini. Gramsci berbeda dengan pandangan Marxisme lain bahwa determinisme ekonomi-lah yang membuat masyarakat terbelenggu oleh penguasa, akan tetapi Gramsci lebih menitik beratkan hegemoni dan kepemimpinan budayalah yang membuat masyarakat menjadi terbelenggu oleh penguasa. Jadi harus ada massa harus bertindak untuk mewujudkan revolusi sosial, massa harus mengembangkan ideologi revolusioner namun mereka tak bisa melakukan semua itu dengan sendirian. Sehingga harus ada gagasan dari kaum intelektual dan selanjutnya di perluas ke massa dan di praktikkan oleh mereka. Pada tahap selanjutnya massa perlu bantuan elit-elit sosial begitu massa di pengaruhi oleh gagasan ini maka mereka akan aksi yang mengarah pada revolusi sosial. Jadi untuk mengendalikan ekonomi dan aparatur Negara cukuplah digunakan revolusi dan juga perlu meraih kepemimpinan budaya terhadap seluruh masyarakat.

Antonio Gramsci lebih mentik beratkan pada determinisme ,modern bukan hanya ekonomi saja yang membelenggu masyarakat akan tetapi banyak faktor lain seperti politik dan kebudayaan. Bagi Gramsci kebudayaan dan politik sangat memepengaruhi kehidupan masyarakat. Dengan politik yang melangengkan kekuasaan yang otoriter dan budaya yang di ciptakan oleh sistem sosial pemerintah  yang seolah-olah pemerintahan yang bersih tanpa kesalahan apapun membuat masyarakat larut akan keindahan semu, dengan di tekannya orang yang radikal dan kritis juga kebudayaan yang melanggengkan rezim maka revolusi sosial itu harus segera di galakkan oleh masyarakat sebelum rezim akan lebih sewenang-wenang dan otoriter terhadap masyarakat.


Dialektika dan Determenisme Ekonomi Karl Marx
Karl Marx sangat di pengaruhi oleh filsuf Jerman G.W.F Hegel ( 1770 – 1831). Hegel menurut ball sanatlah sulit menentukan seberapa besar Hegel mendominasi pemikiran jerman dalam perempat kedua abad ke-19 .orang-orang jerman terdidik termasuk Marx muda ketika sedang membahas sejarah, politik, dan kebudayaan sebagian besar terpengaruh oleh kerangka filsafat Hegel. Ada dua konsep yang menjadi inti filsafat Hegel yaitu dialektika dan idealisme. 1.) Dialektika adalah kerangka berfikir yang menekankan pentingnya proses, hubungan, dinamika, konflik, dan kontradiksi suatu kerangka berfikir yang lebih dinamis ketimbang statis tentang dunia. Marx yang menerima tradisi Hegelian menerima signifikan dialektika, akan tetapi Marx bersikap kritis terhadap cara Hegel menggunakannya Filsafat dialektis percaya bahwa kontradiksi-kontradiksi eksis didalam masyarakat dan bahwa cara paling tepat untuk memahami realitas adalah dengan mempelajari kontradiksi tersebut. Menurut Hegel perubahan histories di gerakkan oleh pemahaman-pemahaman yang saling berlawanan yang merupakan esensi dari realitas, usaha-usaha kita untuk memecahkan kontradiksi-kontradiksi  dan kontradiksi-kontradiksi baru yang akan berkembang. Namun berbeda dengan Hegel, Marx tidak percaya bahwa kontradiksi ini bisa dipecahkan di dalam pemahaman kita, atau di dalam pikiran-pikiran kita. Bagi Marx kontradiksi itu benar-benar ada dan tidak dapat di pecahkan dengan oleh filsuf yang hanya duduk di di belakang meja melainkan harus dengan cara perjuangan hidup dan mati demi mengubah dunia sosial. Contoh karena meluasnya kapitalisme maka jumlah pekerja yang di eksploitasi pun meningkat sebagaimana meningkatnya eksploitasi. Kontradiksi ini tidak dapat ditanggulangi oleh filsafat akan tetapi dengan cara perubahan sosial.

2.) Filsafat idealisme yang menitik beratkan pada arti penting penting pikiran dan produk mental dari pada dunia material. Hegel hanya melihat kerja mental abstrak ini sangat berbeda dengan minat Marx terhadap kerja yang dilakukan orang secara rill dan nyata. Marx merasa bahwa idealisme Hegel membawa orang-orang pada orientasi politik berhaluan sangat konservatif. Marx juga di pengaruhi oleh gambaran ekonomi politis tentang kejamnya sistem kapitalis dan eksploitasi buruh. Marx mengkritik para ahli ekonomi politik karena melihat keburukan tersebut tak terhindarkan dari kapitalisme. Ia juga bersikap kritis terhadap kegagalan melihat terjadinya konflik terpendam anatara kapitalis dan para buruh dan arena mengabaikan kebutuhan akan perubahan radikal dalam tatanan ekonomi. Para ekonom konservatif sulit diterima Marx, karena ia memiliki komitmen terhadap perubahan radikal dari kapitalisme menuju sosialisme. Marx percaya bahwa masyarakat ikut serta dalam perjuangan kelas dan bahwa manusia bisa memilih untuk berpartisipasi dalam rekonstitusi masyarakat revolusioner sepenuhnya atau dalam kejatuhan umum persaingan kelas. Marx berharap dan percaya bahwa masa yang akan datang harus di temukan dalam komunisme, tetapi tidak percaya bahwa para pekerja bisa menunggu kedatangannya secara pasif. Komunisme baru akan datang jika diwujudkan dengan pilihan-pilihan dan perjuangan para pekerja.

Akar dari Marxisme adalah teori konflik dan teori perjuangan kelas, Marx berpendapat bahwa sejarah manusia tidak lain hanyalah konflik dalam perebutan status dan alat-alat produksi yang ada di masyarakat, pada zaman dahulu pun konflik sudah ada akan tetapi tidak se kompleks zaman revolusi industri. Marx mengatakan bahwa konflik yang terjadi hanyalah antara si miskin dan si kaya, kaum borjuis dan kaum proletar, karena kehidupan masyarakat selalu berkonflik maka dalam kehidupannya manusia hanya akan berkonflik untuk memperebutkan status sosial yang ada di masyarakat. Apabila kaum proletar dalam ini buruh ingin melakukan perjuangan kelas untuk melawan kaum borjuis maka mereka harus melakukan kesadaran kelas terlebih dahulu dan merasakan bahwa mereka benar-benar dirugikan oleh kaum borjuis dan di perbudak oleh mereka secara tidak manusiawi. Apabila sudah ada kesadaran bersama, kesadaran akan musuh bersama, dan bertemunya ideologi dan kepentingan politik maka perjuangan kelas itu akan terjadi apabila tidak ada sifat-sifat diatas maka mustahil ada perjuangan  kelas di masyarakat proletar.

Determinisme Modern dan Teori Hegemoni Antonio Gramsci
Gramsci bersikap kritis terhadap Marxis yang deterministis, fatalistis, dan mekanistis. Ia menulis judul essai berjudul “The Revolutions Against“ kebangkitan kehendak politik melawan determinisme ekonomi yang mereduksi karya Marx kapital menjadi hukum sejarah. Pemikiran Antonio Gramsci yang menyoroti persoalan baru yang sebelumnya tidak di pikirkan oleh pemikir Marxisme sebelumnya. Dalam karya “Prison Notebooks  Gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar pada kepentingan belaka, melainkan juga kepentingan kebudayaan dan politis,. Dalam system kekuasaan yang fasistis suatu rezim akan memakai dua jalan penguasaan, 1.) Penguasaan kesadaran melalui jalan pemaksaan dan kekerasan ; 2.) Penguatan lewat jalan hegemoni yaitu kepatuhan dan kesadaran para elemen masyarakat. Yang menjadi fokus analisis Gramsci adalah bagaimana mematahkan rantai hegemoni ini.

Menurut Gramsci keberhasilan rezim fasis menyebarkan kekuasaan pengaruh yang hegemoni ini karena di dukung oleh organisasi-organisasi infrastruktur yang terkait, yang di dalamnya di andaikan terjadi keparuhan para intelektual. Karena faktor kultur dan politis  para intelektual menyerahkan diri, membiarkan , dan patuh terhadap kekuasaan yang merajalela dari rezim sehingga rezim ini memperoleh dukungan dan legitimasi politis secara menyeluruh. Fenomena ini memungkinkan tidak terciptanya prakondisi bagi revolusi pembebasan menuju masyarakat tanpa kelas yang di bayangkan oleh para Marxian. Untuk menghadapi fenomena seperti itu Gramsci menawarkan adanya blok solidaritas untuk melawan rezim fasis.. Mekanismenya adalah menggalang menggalang massa dukungan dari kekuatan intelektual yang memiliki visi dan sikap dalam mendukung kebebasan. Ada dua corak intelektual menurut Gramsci yaitu;
1)  Intelektual tradisional, yaitu intelektual yang tunduk dan patuh terhadap kepentingan rezim fasis. Intelektual yang demikian sebenarnya secara factual adalah musuh masyrakat karena dengan posisi dan integritasnya mereka bekerja sama dengan rezim kekuasaan fasis. Serta memanipulasi system sosial dan politik yang menindas.
2)  Intelektual organik yaitu para intelektual yang turun dari singgasana dan bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugas profetisnya serta membangkitkan kesadaran masyrakat yang di manipulasi oleh kekuatan hegemoni dengan memberikan pendidikan cultural dan politik dalam bahasa keseharian. Mereka ini bertugas untuk memperkuat masyarakat sipil untuk mengakumulasi kekuatan blok solidaritas yaitu masyarakat yang sadar akan kondisi sosial politik dan melakukan perjuangan-perjuangan untuk memberi power terhadap kekuasaan fasis. Blok solidaritas diarahkan untuk mengimbangi daya hegemoni rezim dengan melakukan perang posisi dengan tujuan untuk merebut posisi-posisi vital yang dikuasai oleh rezim fasis. Organisasi infrastruktrur masyarakat yang bersifat profesional, kemasyarakatan yang tadinya di kuasai oleh rezim fasis harus secara perlahan-lahan di ambil alih dan selanjutnya diarahkan sebagai organisasi masyarakat sipil yang tangguh. Jadi fungsi profetis kaum intelektual organik adalah membentuk budaya perlawanan masyarakat dengan membangkitkan kesadaran kritisnya agar sangggup merebut posisi-posisi vital tanpa harus terjebak pada perlawanan terbuka seperti revolusi. Selain tidak strategis revolusi akan segera di tumpas rezim dengan cara kekerasan ( sutrisno & sutanto, 2005:32).

Konsepsi Gramsci lebih menekankan pada pembentukan budaya perlawanan ketimbang menentukan isi kebudayaan itu sendiri. Perspektif Marxisme dan Gramsci memang berbeda dengan perpektif Lukacs. Akan tetapi tetapi kesamaan dari kedua intelektual ini adalah bahwa basis analisis mereka sama-sama menolak pada pandangan yang naif dan vulgar dari para Marxisme Ortodoks bahwa revolusi itu akan datang dengan sendirinya. Dalam kenyataanya kita dapat melihat dari kedua intelektual ini bahwa ramalan akan revolusi tidak senaif dan sevulgar seperti yang di bayangkan. Antonio Gramsci dalam inti teorinya adalah tentang budaya perlawanan yang harus di adopsi kaum intelektual dan mentransferkan nilai-nilai yang mereka peroleh dari pendidikan untuk masyrakat sipil. Revolusi tidak datang sendirinya seperti yang di jelaskan oleh para Marxisme ortodoks, revolusi terjadi karena adanya upaya masyarakat dan kaum intelektual untuk keluar dari belenggu pemerintahan yang fasis. Akan tetapi pandangan Marx dan Gramsci sama-sama menghendaki terjadinya revolusi sosial untuk perubahan sistem sosial masyarakat yang telah dimonopoli oleh golongan pemerintah yang fasis.

Jalan satu-satunya keluar dari belenggu penguasa yang diskriminatif adalah jalan revolusi sosial besar-besaran. Yang membedakan antara revolusi yang di ungkapkan Marx dengan Gramsci adalah cara masyarakat untuk melakukan pergerakan revolusioner ini, Marx hanya menitikberatkan perjuangan itu hanya untuk masyarakat proletar terutama kaum buruh yang di perbudak oleh kapitalisme untuk melakukan kesadaran kelas sehingga terjadi gerakan revolusioner yang cenderung linier. Akan tetapi Gramsci berpendapat bahwa perjuangan melibatkan banyak kepentingan, pertama yang harus dilakukan adalah menggerakkan massa dan mengkonsolidasikan massa sesuai dengan kesadaran kelas mereka, setelah itu massa pergerakan tidak akan bisa mempunyai power yang besar apabila tidak di bantu oleh kaum intelektual dan elit-elit sosial yang akan menopang mereka dalam pergerakan revolusioner yang lebih terbuka dan mempunyai kekuatan yang memberikan power yang lebih pada rezim yang sedang berkuasa. Aliran pemikiran antonio Gramsci adalah mencampurkan Marx dan juga Hegel sehingga karya dia sangat luar biasa apabila di baca secara detail. Gaya filsafat Hegel yang pemikir abstrack melebur dengan karya Marx yang cenderung tidak menyukai filsafat dan lebih bersikap radikal; dan revolusioner, membuat karya Gramsci sangat lengkap untuk menganalisis hegemoni rezim pemerintahan dan juga menganalisis perjuangan kelas yang ada di masyrakat. Karya Gramsci lebih kompleks tidak hanya berfokus pada determinasi ekonomi tetapi juga budaya dan politik sehingga sangat tepat apabila menganalisis esssai ini yang berjudul “Hegemoni Orba dan dinamika konflik di era reformasi : teori Marxisme Hegelian karya antonio Gramsci”.

Aplikasi Teori Antonio Gramsci Dalam Menganalisis Hegemoni Orde Baru dan Dinamika Konflik di Era Reformasi
Selama 32 tahun berkuasa, orba tampil menjadi rezim otoriter. Suara kritis di redam dengan teror dan kekerasan. Wakil rakyat di tundukkan dengan membangun budaya patronase. Konsep harmoni di tanamkan demi kepentingan status quo segalanya harus seragam dan selaras dengan selera penguasa. Indoktrinasi , memalsukan realitas dan mengeruhkan pikiran rakyat di tempuh sebagai jalan. Rakyat di produk untuk melakukan reaksi adaptif terhjadap sistem kekuasaan yang menindas. Logika kepatuhan di ciptakan lewat politik perizinan, UU subversi, cekal, dan pencabutan SIUUP. Lalu terjadilah pembusukan dalam tubuh etika hukum, birokrasi, politik, sosial dan budaya. Korupsi, kolusi dan nepotisme telah menjadi bagian dari kekuasaan. Keadilan di perjual belikan hukum di tempatkan sebagai ajang permainan bahasa. Anehnya selama tiga dasarwasa rakyat ditindas oleh sekelompok kecil kaum istana yang di pimpin penguasa orde baru dengan penguasa Jendral Soeharto. Ini bisa di buktikan dengan kebijakannya mengangkat anggota kabinet pembangunan ke tujuh ketika masyarakat mendesak di berantasnya korupsi, ia justru memilih orang-orang yang terbelit skandal KKN seperti Mohammad Bob Hasan orang kepercayaan bisnisnya juga mengangkat anak perempuan dan kroni-kroninya untuk menduduki jabatan dalam kabinet. Berdirinya rezim orba yang menggantikan Soekarno, sejak semula lebih merupakan agen kepentingan kapitalis internasional di bawah komando AS.

Sejak saat itu strategi sosial, politik, dan ekonomi yang di bangun oleh negara-negara kapitalis mulai di terapkan rezim Orba. Ini tercermin dalam undang-undang no. 2 tahun 1986 mengenai penanaman modal asing. Untuk merealisasikan itu rezim Soeharto melakukan strategi pengamanan yang sering kali malah merugikan bangsa sendiri seperti kebijakan eksplorasi tambang di papua oleh Free Port dan juga eksplorasi tambang di NTB oleh perusahaan New Mont. Semua skenario ini di topang oleh para inteltual dan ekonom yang di sekolahkan di amerika yang bekerjasama untuk mengeksplorasi segala kekayaan alam indonesia. Segala bentuk kekerasan dan otoriter rezim orde baru di buktikan dengan pembunuhan dan pembantaian orang-orang bekas PKI dan di anggap keturunan PKI di bunuh peristiwa berdarah ini merenggut hampir 450.000 orang. Dan segala penculikan terhadap para aktivis mahasiswa yang di lakukan di jaman orde baru, serta pembredelan sejumlah surat kabar rakyat dan juga surat kabar di kampus ini membuktikan betapa penguasa orde baru yang sangat fasis dan juga otoriter membuat kesadaran masyarakat Indonesia terutama kaum intelektual untuk melakukan aksi massa besar-besaran bersama dengan para dosen, para aktivis masyarakat, dan para elit politik yang ingin melengserkan rezim Orba. Setelah terjadinya konsolidasi massa revolusi ini kemudian melakukan aksi sosial  seperti menulis buku, menulis berita di media massa, demonstrasi, dan penekanan yang ekstrimm kepada pemerintah. Setelah menduduki gedung DPR akhirnya rezim orde baru lengser dan di gantika oleh kaum revolusioner yang menginginkan demokrasi yang benar-benar bebas,adil dan berdaulat.

Dari kasus di atas teori hegemoni oleh antonio Gramsci bahwa pertama penguasaan kesadaran melalui jalan kekerasaan dan pemaksaan. Memang benar terjadi di masa orba bahwa masyrakat di bungkam oleh kekerasan, kritik dan pendapat masyarakat yang sekira dapat membahayakan orde baru langsung di singkirkan dan di musnahkan dengan cara kekerasan terbukti dengan pembantaiaan orang-orang yang dianggap PKI, mahasiswa yang kritis pun di culik dan di masukkan ke penjara. Cara kekerasan membuat masyarakat dan para aktivis menjadi takut untuk mengkritik rezim orde baru yang sangat otoriter. Yang kedua adalah jalan kepatuhan dan kesadaran pada elemen masyarakat pada masa orde baru masyarakat di tuntut untuk patuh oleh agenda dan kebijakan pemerintah misalnya tentang penanaman modal asing yang ada di Indonesia jelas-jelas kebijakan itu sangat merugikan bangsa ini akan tetapi masyarakat Indonesia seolah-olah masih sangat normatif dan menerima semua kebijakan-kebijakan pemerintah tanpa menelaah terlebih dahulu.

Rezim orba di Indonesia bisa berhasil juga karena peran organisasi infrastruktur yang menekankan keparuhan intelektual, karena faktor kultural dan politis para intelektual ini menyerahkan diri, pasrah dan patuh pada masa orba ini dibuktikan dengan banyaknya menteri-menteri dan DPR yang bungkam atas segala diskriminasi dan tindakan sewenang-wenang pemerintahan orde baru di biarkan begitu saja. Dan para intelektual ini hanya bisa berdiam diri ketika rakyat menjerit. Para menteri-menteri dan DPR telah bersekutu pada rezim orde baru, terjadi penghianatan intelektualitas sehingga orang inlektual kehilangan idealisme meraka karena uang yang berlimpah dan kekuasaan yang membutakan mata mereka sehingga tidak memungkinkan adanya revolusi pembebasan masyarakat tanpa kelas yang di jelaskan oleh Marx.

Intelektual yang tradisional hidup terlalu lama di masa orde baru dan mereka menjadi musuh masyarakat dan memanipulasi sistem sosial yang menindas masyarakat  pada waktu itu. Akan tetapi itu tidak lama masih ada semangat kaum intektual muda lainnya seperti aliansi mahasiswa se-indonesia, LSM dan para dosen-dosen yang langsung turun ke medan perang, mereka semua sudah meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk masyarakat ini pertanda bahwa intelektual organis sudah bersatu di indonesia, benar yang di katakan oleh Gramsci bahwa pemusatan aksi massa yang besar harus di galakkan dengan di pimpin oleh kaum intelektual bangsa, dan para elit-elit sosial yang ada pada saat itu. Seperti organisasi buruh indonesia, aliansi mahasiswa di indonesia dan para dosen-dosen di Indonesia. Peristiwa ini terjadi karena adanya kesadaran sama-sama di tindas oleh rezim orba dan juga semangat revolusi sosial membuat para intelektual ini bersemangat secara revolusioner. Fungsi yang lain adalah membuktikan bahwa kaum intektual indonesia bisa berbicara banyak dan menjadi agen perubahan bangsa sesuai dengan yang di kemukakan oleh antonio Gramsci. Dengan berbagai variasi perlawanan akhirnya rezim orde baru pun tumbang dengan semangat revolusioner masyarakat dan kaum intelektual bangsa ini dan budaya perlawanan di indonesia menjadi suatu keharusan yang harus dilestarikan untuk kaum intelektual generasi selanjutnya.

Berdasarkan analisis teori Antonio Gramsci terhadap hegemoni Orba dan dinamika konflik pada era reformasi di atas dapat di peroleh simpulan sebagai berikut :
1.    Hegemoni orba dan segala diskriminasinya telah membuat segala sektor ekonomi, politik, dan budaya di kontrol oleh rezim yang fasis, ini di dukung oleh intelektual tradisional yang sangat patuh dan diam terhadap rezim orde baru. Ini merupakan bencana bagi kaum intelektual yang sudah bekerjasama terhadap rezim yang selama ini membuat banyak kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat Indonesia.
2.   Teori antonio Gramsci sangat tepat menganalisis hegemoni yang dilakukan orba dengan dua jalan yang pertama dengan cara pemaksaan dan kekerasan, yang kedua dengan cara menguasai segala organisasi dan sistem sosial untuk kepatuhan masyarakat. Rezim orba sangatlah jeli mereka menguasai segala sektor yang bisa mmenyerang mereka, yang di taklukan mereka adalah para DPR, media cetak, media elektronik, dan para intelektual mereka di jinakkan oleh rezim orde baru dengan 2 jalan hegemoni seperti di atas.
3.  Gerakan revolusi yang di kemukakan oleh Gramsci yang menitik beratkan pada perjuangan kelas yang di dalamnya adanya massa yang besar, di pimpin oleh kaum intelektual dan para eleit-elit yang ada ini sama persis seperti yang di lakukan oleh masyarakat dan para intelektual indonesia sehingga revolusi sosial benanr-benar terjadi dan rezim orba lengser, ini membuktikan bahwa gerakan revolusisoner yang di kemukakan oleh Gramsci memang benar adanya.
                       
Referensi
Gusmian, Islah. 2004. Pantat Bangsaku : Melawan lupa di negeri para tersangka. Yogyakarta : Galang Press
Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2013. Teori Sosiologi : Dari teori klasik sampai perkembangan mutahir teori sosial postmodern. Yogyakarta : Kreasi Wacana
Siahaan,Hotman.1986. Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi. Jakarta : Erlangga
Suhariyadi.2009. Aplikasi teori Antonio Gramsci Dalam Kajian Sosiologi Sastra terhadap Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer. Prospektus, Tahun VII Nomor 2, oktober 2009.
Sutrisno, Mudji & Hendar putranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius

2 komentar: