Oleh: Danang Pamungkas/Pendidikan Sosiologi 2012
Komisi 3 DPM KM FIS UNY 2014
Antonio Gramsci merupakan tokoh eksponen Marxisian
dengan teori dan pandangan yang terkenal tentang hegemoni dan revolusi sosial.
Gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa dominasi kekuasaan tidak
selamanya berakar pada kepentingan ekonomi saja, akan tetapi juga berakar juga
pada kebudayaan dan politis. Dalam system kekuasaan yang fasistis suatu rezim
akan memakai dua jalan penguasaan, 1.) Penguasaan kesadaran melalui jalan
pemaksaan dan kekerasan ; 2.) Penguatan lewat jalan hegemoni yaitu kepatuhan
dan kesadaran para elemen masyrakat. Yang menjadi fokus analisis Gramsci adalah
bagaimana mematahkan rantai hegemoni ini. Gramsci berbeda dengan pandangan Marxisme
lain bahwa determinisme ekonomi-lah yang membuat masyarakat terbelenggu oleh penguasa,
akan tetapi Gramsci lebih menitik beratkan hegemoni dan kepemimpinan budayalah
yang membuat masyarakat menjadi terbelenggu oleh penguasa. Jadi harus ada massa
harus bertindak untuk mewujudkan revolusi sosial, massa harus mengembangkan
ideologi revolusioner namun mereka tak bisa melakukan semua itu dengan
sendirian. Sehingga harus ada gagasan dari kaum intelektual dan selanjutnya di
perluas ke massa
dan di praktikkan oleh mereka. Pada tahap selanjutnya massa perlu bantuan
elit-elit sosial begitu massa di pengaruhi oleh gagasan ini maka mereka akan aksi
yang mengarah pada revolusi sosial. Jadi untuk mengendalikan ekonomi dan
aparatur Negara cukuplah digunakan revolusi dan juga perlu meraih kepemimpinan
budaya terhadap seluruh masyarakat.
Antonio Gramsci lebih mentik beratkan pada determinisme ,modern
bukan hanya ekonomi saja yang membelenggu masyarakat akan tetapi banyak faktor
lain seperti politik dan kebudayaan. Bagi Gramsci kebudayaan dan politik sangat memepengaruhi
kehidupan masyarakat. Dengan politik yang melangengkan kekuasaan yang otoriter
dan budaya yang di ciptakan oleh sistem sosial pemerintah yang seolah-olah pemerintahan yang bersih
tanpa kesalahan apapun membuat masyarakat larut akan keindahan semu, dengan di
tekannya orang yang radikal dan kritis juga kebudayaan yang melanggengkan rezim
maka revolusi sosial itu harus segera di galakkan oleh masyarakat sebelum rezim akan lebih sewenang-wenang dan
otoriter terhadap masyarakat.
Dialektika
dan Determenisme Ekonomi
Karl Marx
Karl Marx sangat di pengaruhi oleh filsuf
Jerman G.W.F Hegel ( 1770 – 1831). Hegel menurut ball sanatlah sulit menentukan
seberapa besar Hegel mendominasi pemikiran jerman dalam perempat kedua abad
ke-19 .orang-orang jerman terdidik termasuk Marx muda ketika sedang membahas
sejarah, politik, dan kebudayaan sebagian besar terpengaruh oleh kerangka
filsafat Hegel. Ada
dua konsep yang menjadi inti filsafat Hegel yaitu dialektika dan idealisme. 1.)
Dialektika adalah kerangka berfikir yang menekankan pentingnya proses, hubungan,
dinamika, konflik, dan kontradiksi suatu kerangka berfikir yang lebih dinamis
ketimbang statis tentang dunia. Marx yang menerima tradisi Hegelian menerima
signifikan dialektika, akan tetapi Marx bersikap kritis terhadap cara Hegel
menggunakannya Filsafat dialektis percaya bahwa kontradiksi-kontradiksi eksis
didalam masyarakat dan bahwa cara paling tepat untuk memahami realitas adalah dengan
mempelajari kontradiksi tersebut. Menurut Hegel perubahan histories di gerakkan
oleh pemahaman-pemahaman yang saling berlawanan yang merupakan esensi dari
realitas, usaha-usaha kita untuk memecahkan kontradiksi-kontradiksi dan kontradiksi-kontradiksi baru yang akan
berkembang. Namun berbeda dengan Hegel, Marx tidak percaya bahwa kontradiksi
ini bisa dipecahkan di dalam pemahaman kita, atau di dalam pikiran-pikiran
kita. Bagi Marx kontradiksi itu benar-benar ada dan tidak dapat di pecahkan
dengan oleh filsuf yang hanya duduk di di belakang meja melainkan harus dengan
cara perjuangan hidup dan mati demi mengubah dunia sosial. Contoh karena
meluasnya kapitalisme maka jumlah pekerja yang di eksploitasi pun meningkat
sebagaimana meningkatnya eksploitasi. Kontradiksi ini tidak dapat ditanggulangi
oleh filsafat akan tetapi dengan cara perubahan sosial.
2.) Filsafat idealisme yang menitik beratkan
pada arti penting penting pikiran dan produk mental dari pada dunia material. Hegel
hanya melihat kerja mental abstrak ini sangat berbeda dengan minat Marx
terhadap kerja yang dilakukan orang secara rill dan nyata. Marx merasa bahwa
idealisme Hegel membawa orang-orang pada orientasi politik berhaluan sangat
konservatif. Marx juga di pengaruhi oleh gambaran ekonomi politis tentang
kejamnya sistem kapitalis dan eksploitasi buruh. Marx mengkritik para ahli
ekonomi politik karena melihat keburukan tersebut tak terhindarkan dari
kapitalisme. Ia juga bersikap kritis terhadap kegagalan melihat terjadinya
konflik terpendam anatara kapitalis dan para buruh dan arena mengabaikan
kebutuhan akan perubahan radikal dalam tatanan ekonomi. Para
ekonom konservatif sulit diterima Marx, karena ia memiliki komitmen terhadap
perubahan radikal dari kapitalisme menuju sosialisme. Marx percaya bahwa masyarakat
ikut serta dalam perjuangan kelas dan bahwa manusia bisa memilih untuk
berpartisipasi dalam rekonstitusi masyarakat revolusioner sepenuhnya atau dalam
kejatuhan umum persaingan kelas. Marx berharap dan percaya bahwa masa yang akan
datang harus di temukan dalam komunisme, tetapi tidak percaya bahwa para
pekerja bisa menunggu kedatangannya secara pasif. Komunisme baru akan datang
jika diwujudkan dengan pilihan-pilihan dan perjuangan para pekerja.
Akar dari Marxisme
adalah teori konflik dan teori perjuangan kelas, Marx berpendapat bahwa sejarah
manusia tidak lain hanyalah konflik dalam perebutan status dan alat-alat
produksi yang ada di masyarakat, pada zaman dahulu pun konflik sudah ada akan
tetapi tidak se kompleks zaman revolusi industri. Marx mengatakan bahwa konflik
yang terjadi hanyalah antara si miskin dan si kaya, kaum borjuis dan kaum
proletar, karena kehidupan masyarakat selalu berkonflik maka dalam kehidupannya
manusia hanya akan berkonflik untuk memperebutkan status sosial yang ada di
masyarakat. Apabila kaum proletar dalam ini buruh ingin melakukan perjuangan
kelas untuk melawan kaum borjuis maka mereka harus melakukan kesadaran kelas
terlebih dahulu dan merasakan bahwa mereka benar-benar dirugikan oleh kaum
borjuis dan di perbudak oleh mereka secara tidak manusiawi. Apabila sudah ada
kesadaran bersama, kesadaran akan musuh bersama, dan bertemunya ideologi dan
kepentingan politik maka perjuangan kelas itu akan terjadi apabila tidak ada
sifat-sifat diatas maka mustahil ada perjuangan kelas di masyarakat proletar.
Determinisme
Modern dan Teori Hegemoni Antonio Gramsci
Gramsci bersikap kritis terhadap Marxis yang
deterministis, fatalistis, dan mekanistis. Ia menulis judul essai berjudul “The Revolutions Against“ kebangkitan
kehendak politik melawan determinisme ekonomi yang mereduksi karya Marx kapital
menjadi hukum sejarah. Pemikiran Antonio Gramsci yang menyoroti persoalan baru yang
sebelumnya tidak di pikirkan oleh pemikir Marxisme sebelumnya. Dalam karya “Prison Notebooks” Gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa
dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar pada kepentingan belaka, melainkan
juga kepentingan kebudayaan dan politis,. Dalam system kekuasaan yang fasistis
suatu rezim akan memakai dua jalan penguasaan, 1.) Penguasaan kesadaran melalui
jalan pemaksaan dan kekerasan ; 2.) Penguatan lewat jalan hegemoni yaitu
kepatuhan dan kesadaran para elemen masyarakat. Yang menjadi fokus analisis Gramsci
adalah bagaimana mematahkan rantai hegemoni ini.
Menurut Gramsci keberhasilan rezim fasis
menyebarkan kekuasaan pengaruh yang hegemoni ini karena di dukung oleh
organisasi-organisasi infrastruktur yang terkait, yang di dalamnya di andaikan
terjadi keparuhan para intelektual. Karena faktor kultur dan politis para intelektual menyerahkan diri, membiarkan
, dan patuh terhadap kekuasaan yang merajalela dari rezim sehingga rezim ini
memperoleh dukungan dan legitimasi politis secara menyeluruh. Fenomena ini
memungkinkan tidak terciptanya prakondisi bagi revolusi pembebasan menuju
masyarakat tanpa kelas yang di bayangkan oleh para Marxian. Untuk menghadapi
fenomena seperti itu Gramsci menawarkan adanya blok solidaritas untuk melawan
rezim fasis.. Mekanismenya adalah menggalang menggalang massa dukungan dari kekuatan intelektual yang
memiliki visi dan sikap dalam mendukung kebebasan. Ada dua corak intelektual
menurut Gramsci yaitu;
1) Intelektual
tradisional, yaitu intelektual yang tunduk dan patuh terhadap kepentingan rezim
fasis. Intelektual yang demikian sebenarnya secara factual adalah musuh
masyrakat karena dengan posisi dan integritasnya mereka bekerja sama dengan
rezim kekuasaan fasis. Serta memanipulasi system sosial dan politik yang
menindas.
2) Intelektual
organik yaitu para intelektual yang turun dari singgasana dan bergabung dengan
masyarakat untuk menjalankan tugas profetisnya serta membangkitkan kesadaran
masyrakat yang di manipulasi oleh kekuatan hegemoni dengan memberikan
pendidikan cultural dan politik dalam bahasa keseharian. Mereka ini bertugas
untuk memperkuat masyarakat sipil untuk mengakumulasi kekuatan blok solidaritas
yaitu masyarakat yang sadar akan kondisi sosial politik dan melakukan
perjuangan-perjuangan untuk memberi power
terhadap kekuasaan fasis. Blok solidaritas
diarahkan untuk mengimbangi daya hegemoni rezim dengan melakukan perang posisi
dengan tujuan untuk merebut posisi-posisi vital yang dikuasai oleh rezim fasis.
Organisasi infrastruktrur masyarakat yang bersifat profesional, kemasyarakatan
yang tadinya di kuasai oleh rezim fasis harus secara perlahan-lahan di ambil
alih dan selanjutnya diarahkan sebagai organisasi masyarakat sipil yang
tangguh. Jadi fungsi profetis kaum intelektual organik adalah membentuk budaya
perlawanan masyarakat dengan membangkitkan kesadaran kritisnya agar sangggup
merebut posisi-posisi vital tanpa harus terjebak pada perlawanan terbuka
seperti revolusi. Selain tidak strategis revolusi akan segera di tumpas rezim
dengan cara kekerasan ( sutrisno & sutanto, 2005:32).
Konsepsi
Gramsci lebih menekankan pada pembentukan budaya perlawanan ketimbang
menentukan isi kebudayaan itu sendiri. Perspektif Marxisme dan Gramsci memang berbeda dengan
perpektif Lukacs. Akan tetapi tetapi kesamaan dari kedua intelektual ini adalah
bahwa basis analisis mereka sama-sama menolak pada pandangan yang naif dan
vulgar dari para Marxisme Ortodoks bahwa revolusi itu akan datang dengan sendirinya. Dalam kenyataanya
kita dapat melihat dari kedua intelektual ini bahwa ramalan akan revolusi tidak
senaif dan sevulgar seperti yang di bayangkan. Antonio Gramsci dalam inti
teorinya adalah tentang budaya perlawanan yang harus di adopsi kaum intelektual
dan mentransferkan nilai-nilai yang mereka peroleh dari pendidikan untuk
masyrakat sipil. Revolusi tidak datang sendirinya seperti yang di jelaskan oleh
para Marxisme ortodoks, revolusi terjadi karena adanya upaya masyarakat dan kaum intelektual untuk keluar dari belenggu
pemerintahan yang fasis. Akan tetapi pandangan Marx dan Gramsci sama-sama
menghendaki terjadinya revolusi sosial untuk perubahan sistem sosial masyarakat yang telah dimonopoli oleh golongan pemerintah yang
fasis.
Jalan
satu-satunya keluar dari belenggu penguasa yang diskriminatif adalah jalan
revolusi sosial besar-besaran. Yang membedakan antara revolusi yang di ungkapkan Marx dengan Gramsci adalah
cara masyarakat untuk melakukan pergerakan revolusioner ini, Marx hanya menitikberatkan
perjuangan itu hanya untuk masyarakat proletar terutama kaum buruh yang di perbudak oleh kapitalisme untuk
melakukan kesadaran kelas sehingga terjadi gerakan revolusioner yang cenderung
linier. Akan tetapi Gramsci berpendapat bahwa perjuangan melibatkan banyak
kepentingan, pertama yang harus dilakukan adalah menggerakkan massa dan
mengkonsolidasikan massa sesuai dengan kesadaran kelas mereka, setelah itu
massa pergerakan tidak akan bisa mempunyai power
yang besar apabila tidak di bantu oleh kaum intelektual dan elit-elit sosial
yang akan menopang mereka dalam pergerakan revolusioner yang lebih terbuka dan
mempunyai kekuatan yang memberikan power
yang lebih pada rezim yang sedang berkuasa. Aliran pemikiran antonio Gramsci
adalah mencampurkan Marx dan juga Hegel sehingga karya dia sangat luar biasa
apabila di baca secara detail. Gaya filsafat Hegel yang pemikir abstrack
melebur dengan karya Marx yang cenderung tidak menyukai filsafat dan lebih
bersikap radikal; dan revolusioner, membuat karya Gramsci sangat lengkap untuk
menganalisis hegemoni rezim pemerintahan dan juga menganalisis perjuangan kelas
yang ada di masyrakat. Karya Gramsci lebih kompleks tidak hanya berfokus pada
determinasi ekonomi tetapi juga budaya dan politik sehingga sangat tepat
apabila menganalisis esssai ini yang berjudul “Hegemoni Orba dan dinamika konflik di era reformasi : teori Marxisme Hegelian
karya antonio Gramsci”.
Aplikasi Teori Antonio Gramsci Dalam Menganalisis
Hegemoni Orde Baru
dan Dinamika Konflik di Era Reformasi
Selama 32 tahun berkuasa, orba tampil menjadi rezim otoriter. Suara kritis
di redam dengan teror dan kekerasan. Wakil rakyat di tundukkan dengan membangun
budaya patronase. Konsep harmoni di tanamkan demi kepentingan status quo segalanya harus seragam dan
selaras dengan selera penguasa. Indoktrinasi , memalsukan realitas dan
mengeruhkan pikiran rakyat di tempuh sebagai jalan. Rakyat di produk untuk
melakukan reaksi adaptif terhjadap sistem kekuasaan yang menindas. Logika kepatuhan
di ciptakan lewat politik perizinan, UU subversi, cekal, dan pencabutan SIUUP. Lalu
terjadilah pembusukan dalam tubuh etika hukum, birokrasi, politik, sosial dan
budaya. Korupsi, kolusi dan nepotisme telah menjadi bagian dari kekuasaan. Keadilan
di perjual belikan hukum di tempatkan sebagai ajang permainan bahasa. Anehnya selama
tiga dasarwasa rakyat ditindas oleh sekelompok kecil kaum istana yang di pimpin
penguasa orde baru dengan penguasa Jendral Soeharto. Ini bisa di buktikan dengan kebijakannya mengangkat anggota
kabinet pembangunan ke tujuh ketika masyarakat mendesak di berantasnya korupsi,
ia justru memilih orang-orang yang terbelit skandal KKN seperti Mohammad Bob
Hasan orang kepercayaan bisnisnya juga mengangkat anak perempuan dan
kroni-kroninya untuk menduduki jabatan dalam kabinet. Berdirinya rezim orba
yang menggantikan Soekarno,
sejak semula lebih merupakan agen kepentingan kapitalis internasional di bawah
komando AS.
Sejak saat itu strategi sosial, politik, dan ekonomi yang di bangun oleh
negara-negara kapitalis mulai di terapkan rezim Orba. Ini tercermin dalam undang-undang no. 2 tahun 1986 mengenai
penanaman modal asing. Untuk merealisasikan itu rezim Soeharto melakukan strategi pengamanan yang sering kali
malah merugikan bangsa sendiri seperti kebijakan eksplorasi tambang di papua
oleh Free Port dan juga eksplorasi
tambang di NTB oleh perusahaan New Mont.
Semua skenario ini di topang oleh para inteltual dan ekonom yang di sekolahkan
di amerika yang bekerjasama untuk mengeksplorasi segala kekayaan alam
indonesia. Segala bentuk kekerasan dan otoriter rezim orde baru di buktikan
dengan pembunuhan dan pembantaian orang-orang bekas PKI dan di anggap keturunan
PKI di bunuh peristiwa berdarah ini merenggut hampir 450.000 orang. Dan segala
penculikan terhadap para aktivis mahasiswa yang di lakukan di jaman orde baru,
serta pembredelan sejumlah surat kabar rakyat dan juga surat kabar di kampus
ini membuktikan betapa penguasa orde baru yang sangat fasis dan juga otoriter
membuat kesadaran masyarakat Indonesia terutama kaum intelektual untuk melakukan aksi
massa besar-besaran bersama dengan para dosen, para aktivis masyarakat, dan
para elit politik yang ingin melengserkan rezim Orba. Setelah terjadinya konsolidasi massa revolusi ini
kemudian melakukan aksi sosial seperti
menulis buku, menulis berita di media massa, demonstrasi, dan penekanan yang
ekstrimm kepada pemerintah. Setelah menduduki gedung DPR akhirnya rezim orde
baru lengser dan di gantika oleh kaum revolusioner yang menginginkan demokrasi
yang benar-benar bebas,adil dan berdaulat.
Dari kasus di atas teori hegemoni oleh antonio Gramsci bahwa pertama
penguasaan kesadaran melalui jalan kekerasaan dan pemaksaan. Memang benar
terjadi di masa orba bahwa masyrakat di bungkam oleh kekerasan, kritik dan pendapat
masyarakat yang sekira dapat membahayakan orde baru langsung di singkirkan dan
di musnahkan dengan cara kekerasan terbukti dengan pembantaiaan orang-orang
yang dianggap PKI, mahasiswa yang kritis pun di culik dan di masukkan ke
penjara. Cara kekerasan membuat masyarakat dan para aktivis menjadi takut untuk
mengkritik rezim orde baru yang sangat otoriter. Yang kedua adalah jalan
kepatuhan dan kesadaran pada elemen masyarakat pada masa orde baru masyarakat
di tuntut untuk patuh oleh agenda dan kebijakan pemerintah misalnya tentang
penanaman modal asing yang ada di Indonesia jelas-jelas kebijakan itu sangat merugikan bangsa
ini akan tetapi masyarakat Indonesia seolah-olah masih sangat normatif dan menerima semua
kebijakan-kebijakan pemerintah tanpa menelaah terlebih dahulu.
Rezim orba di Indonesia bisa berhasil juga karena peran organisasi infrastruktur yang menekankan
keparuhan intelektual, karena faktor kultural dan politis para intelektual ini menyerahkan diri,
pasrah dan patuh pada masa orba ini dibuktikan dengan
banyaknya menteri-menteri dan DPR yang bungkam atas segala diskriminasi dan
tindakan sewenang-wenang pemerintahan orde baru di biarkan begitu saja. Dan para
intelektual ini hanya bisa berdiam diri ketika rakyat menjerit. Para menteri-menteri
dan DPR telah bersekutu pada rezim orde baru, terjadi penghianatan
intelektualitas sehingga orang inlektual kehilangan idealisme meraka karena
uang yang berlimpah dan kekuasaan yang membutakan mata mereka sehingga tidak
memungkinkan adanya revolusi pembebasan masyarakat tanpa kelas yang di jelaskan
oleh Marx.
Intelektual
yang tradisional hidup terlalu lama di masa orde baru dan mereka menjadi musuh
masyarakat dan memanipulasi sistem sosial yang menindas masyarakat pada waktu itu. Akan tetapi itu tidak lama
masih ada semangat kaum intektual muda lainnya seperti aliansi mahasiswa se-indonesia,
LSM dan para dosen-dosen yang langsung turun ke medan perang, mereka semua
sudah meluangkan waktu dan tenaga mereka untuk masyarakat ini pertanda bahwa
intelektual organis sudah bersatu di indonesia, benar yang di katakan oleh Gramsci
bahwa pemusatan aksi massa yang besar harus di galakkan dengan di pimpin oleh
kaum intelektual bangsa, dan para elit-elit sosial yang ada pada saat itu. Seperti
organisasi buruh indonesia, aliansi mahasiswa di indonesia dan para dosen-dosen
di Indonesia. Peristiwa ini terjadi karena adanya kesadaran
sama-sama di tindas oleh rezim orba dan juga semangat revolusi sosial membuat
para intelektual ini bersemangat secara revolusioner. Fungsi yang lain adalah
membuktikan bahwa kaum intektual indonesia bisa berbicara banyak dan menjadi
agen perubahan bangsa sesuai dengan yang di kemukakan oleh antonio Gramsci. Dengan
berbagai variasi perlawanan akhirnya rezim orde baru pun tumbang dengan
semangat revolusioner masyarakat dan kaum intelektual bangsa ini dan budaya
perlawanan di indonesia menjadi suatu keharusan yang harus dilestarikan untuk
kaum intelektual generasi selanjutnya.
Berdasarkan
analisis teori Antonio Gramsci
terhadap hegemoni Orba dan
dinamika konflik pada era reformasi di atas dapat di peroleh simpulan sebagai
berikut :
1. Hegemoni orba dan segala diskriminasinya telah membuat
segala sektor ekonomi, politik, dan budaya di kontrol oleh rezim yang fasis,
ini di dukung oleh intelektual tradisional yang sangat patuh dan diam terhadap
rezim orde baru. Ini merupakan bencana bagi kaum intelektual yang sudah
bekerjasama terhadap rezim yang selama ini membuat banyak kerugian yang sangat
besar terhadap masyarakat Indonesia.
2. Teori antonio Gramsci
sangat tepat menganalisis hegemoni yang dilakukan orba dengan dua jalan yang
pertama dengan cara pemaksaan dan kekerasan, yang kedua dengan cara menguasai
segala organisasi dan sistem sosial untuk kepatuhan masyarakat. Rezim orba
sangatlah jeli mereka menguasai segala sektor yang bisa mmenyerang mereka, yang
di taklukan mereka adalah para DPR, media cetak, media elektronik, dan para
intelektual mereka di jinakkan oleh rezim orde baru dengan 2 jalan hegemoni
seperti di atas.
3. Gerakan revolusi yang di kemukakan oleh Gramsci yang
menitik beratkan pada perjuangan kelas yang di dalamnya adanya massa yang
besar, di pimpin oleh kaum intelektual dan para eleit-elit yang ada ini sama
persis seperti yang di lakukan oleh masyarakat dan para intelektual indonesia
sehingga revolusi sosial benanr-benar terjadi dan rezim orba lengser, ini
membuktikan bahwa gerakan revolusisoner yang di kemukakan oleh Gramsci memang
benar adanya.
Referensi
Gusmian, Islah. 2004. Pantat Bangsaku
: Melawan lupa di negeri para tersangka. Yogyakarta : Galang Press
Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2013. Teori Sosiologi : Dari teori klasik sampai perkembangan mutahir teori
sosial postmodern. Yogyakarta : Kreasi Wacana
Siahaan,Hotman.1986. Pengantar Ke
Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi. Jakarta : Erlangga
Suhariyadi.2009. Aplikasi teori
Antonio Gramsci Dalam Kajian Sosiologi Sastra terhadap Novel Arok Dedes Karya
Pramoedya Ananta Toer. Prospektus, Tahun VII Nomor 2, oktober 2009.
Sutrisno,
Mudji & Hendar putranto. 2005.
Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius
Ajibb =))
BalasHapusthanks :-)
Hapus