01.15
0



Oleh: Miftahul Habib F/Pendidikan Sejarah 2011
Ketua DPM KM FIS UNY 2014

Pendidikan merupakan hal yang sangat integral dalam keberlangsungan hidup suatu bangsa. Kita sering mendengar ujar-ujaran bahwa baik buruknya suatu bangsa amat bergantung kepada kualitas pendidikan di negara tersebut. Bangsa yang maju pastilah memiliki kualitas pendidikan yang baik, begitu pula sebaliknya.

Bangsa Indonesia saat ini dihadapi oleh bagitu banyak masalah. Bangsa ini sedang mengalami apa yang disebut dengan degradasi moral. Selain itu generasi muda kita juga seolah telah kehilangan karakternya sebagai bangsa Indonesia. Hal tersebut berakibat fatal terhadap keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kasus korupsi, ketidakadilan hukum, atau bahkan disintegrasi bangsa seolah-olah menjadi hal yang lumrah terjadi di bumi pertiwi ini.

Pertanyaanya adalah, apakah yang melatarbelakangi hal tersebut?  Indonesia jelas bukan bangsa yang tidak berpendidikan. Kita memiliki sistem pendidikan yang  jelas. Sistem tersebut diatur dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Namun masalahnya baru dijumpai pada saat pengaplikasianya yang bermuara pada pragmatisme pendidikan . Hal tersebut, menurut saya adalah faktor utama dari permasalahan-permasalahan yang makin menggurita di negeri ini.

Pendidikan di Indonesia saat ini telah menanggalkan nilai-nilai luhur di dalam pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan lagi bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ataupun berfungsi untuk membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pendidikan di Indonesia kini hanya terpaku kepada tujuan-tujuan praktis seperti untuk menyediakan tenaga kerja agar laku di pasaran.

Pendidikan di Indonesia samasekali telah meninggalkan esensi dari pendidikan itu sendiri. Sekolah-sekolah hanya mau tahu murid-muridnya mendapatkan nilai baik entah bagaimana caranya. Sekolah-sekolah juga terkesan menjadikan UN sebagai tujuan akhir pendidikan. Hasilnya, para siswa hanya diajari bagaimana caranya menjawab soal saja. Tak jarang, sekolah-sekolah juga tak segan untuk melakukan pengkatrolan atau memanipulasi nilai agar siswanya bisa lulus dalam suatu ujian. Hal-hal esensial yang sejatinya diamanatkan oleh undang-undang ditinggalkan begitu saja. Hal tersebut pada akhirnya menimbulkan efek domino yang bersifat destruktif.

Permasalahan pendidikan ini nyatanya telah membawa keburukan yang lebih parah lagi, terutama dalam segi pembentukan karakter dan moral bangsa. Generasi muda penerus bangsa yang seharusnya diajari moral, serta karakter sebagai bekal untuk meneruskan amanat pendiri bangsa ini nyatanya justru ikut-ikutan terjebak di dalam pragmatisme tersebut. Contoh konkritnya, mereka menjadi melupakan esensi dari keilmuan mereka tersebut, namun hanya fokus untuk bagaimana meraih nilai baik pada setiap pelajaran. Parahnya lagi, hal tersebut kerapkali dilakukan dengan menghalalkan segala cara termasuk cara-cara tidak terhormat seperti mencontek, memanipulasi tugas, dan sebagainya. Pada akhirnya, sistem pendidikan yang pragmatis seperti ini hanya akan mencetak karakter bangsa yang memiliki sikap oportunis dan hipokrit. Hal-hal buruk tersebut jika terus dipertahankan maka akibatnya akan merusak karakter dan moral mereka sendiri. Kehancuran karakter serta moral dari generasi penerus inilah yang membuat bangsa ini makin sulit lepas dari masalah multidimensional yang terus mendera.


Melihat kondisi yang begitu buruk ini, menjadi suatu kewajiban kita bersama untuk merubah itu semua. Saya sendiri berpendapat jika membangun suatu kesadaran kolektif adalah sebuah solusi yan tepat untuk lepas dari belenggu pragmatisme pendidikan. Sebagai insan pendidikan, adalah hal sebuah kewajiban bagi kita untuk memahami makna esensial dari pendidikan itu sendiri. Jika kita dapat memahaminya, kemudian kita harus bisa mengaplikasikan hal tersebut di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila hal tersebut terwujud, maka bukanlah hal yang mustahil lagi jika kelak bangsa ini akan memiliki generasi yang berkarakter dan bermoral yang bisa melepaskan bangsa ini dari masalah-masalah yang masih muncul saat ini. Percayalah.

0 komentar:

Posting Komentar