Oleh: Miftahul Habib F/Pendidikan Sejarah 2011
Ketua DPM KM FIS UNY 2014
Pendidikan merupakan hal yang sangat integral
dalam keberlangsungan hidup suatu bangsa. Kita sering mendengar ujar-ujaran
bahwa baik buruknya suatu bangsa amat bergantung kepada kualitas pendidikan di
negara tersebut. Bangsa yang maju pastilah memiliki kualitas pendidikan yang
baik, begitu pula sebaliknya.
Bangsa Indonesia saat ini dihadapi oleh
bagitu banyak masalah. Bangsa ini sedang mengalami apa yang disebut dengan
degradasi moral. Selain itu generasi muda kita juga seolah telah kehilangan
karakternya sebagai bangsa Indonesia. Hal tersebut berakibat fatal terhadap
keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kasus korupsi,
ketidakadilan hukum, atau bahkan disintegrasi bangsa seolah-olah menjadi hal
yang lumrah terjadi di bumi pertiwi ini.
Pertanyaanya adalah, apakah yang
melatarbelakangi hal tersebut? Indonesia
jelas bukan bangsa yang tidak berpendidikan. Kita memiliki sistem pendidikan
yang jelas. Sistem tersebut diatur dalam
UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Namun masalahnya baru dijumpai pada
saat pengaplikasianya yang bermuara pada pragmatisme pendidikan . Hal tersebut,
menurut saya adalah faktor utama dari permasalahan-permasalahan yang makin
menggurita di negeri ini.
Pendidikan di Indonesia saat ini telah
menanggalkan nilai-nilai luhur di dalam pendidikan itu sendiri. Pendidikan
bukan lagi bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ataupun berfungsi
untuk membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pendidikan di
Indonesia kini hanya terpaku kepada tujuan-tujuan praktis seperti untuk
menyediakan tenaga kerja agar laku di pasaran.
Pendidikan di Indonesia samasekali telah
meninggalkan esensi dari pendidikan itu sendiri. Sekolah-sekolah hanya mau tahu
murid-muridnya mendapatkan nilai baik entah bagaimana caranya. Sekolah-sekolah
juga terkesan menjadikan UN sebagai tujuan akhir pendidikan. Hasilnya, para
siswa hanya diajari bagaimana caranya menjawab soal saja. Tak jarang,
sekolah-sekolah juga tak segan untuk melakukan pengkatrolan atau memanipulasi
nilai agar siswanya bisa lulus dalam suatu ujian. Hal-hal esensial yang
sejatinya diamanatkan oleh undang-undang ditinggalkan begitu saja. Hal tersebut
pada akhirnya menimbulkan efek domino yang bersifat destruktif.
Permasalahan pendidikan
ini nyatanya telah membawa keburukan yang lebih parah lagi, terutama dalam segi
pembentukan karakter dan moral bangsa. Generasi muda penerus bangsa yang
seharusnya diajari moral, serta karakter sebagai bekal untuk meneruskan amanat
pendiri bangsa ini nyatanya justru ikut-ikutan terjebak di dalam pragmatisme
tersebut. Contoh konkritnya, mereka menjadi melupakan esensi dari keilmuan
mereka tersebut, namun hanya fokus untuk bagaimana meraih nilai baik pada
setiap pelajaran. Parahnya lagi, hal tersebut kerapkali dilakukan dengan
menghalalkan segala cara termasuk cara-cara tidak terhormat seperti mencontek,
memanipulasi tugas, dan sebagainya. Pada akhirnya, sistem pendidikan yang
pragmatis seperti ini hanya akan mencetak karakter bangsa yang memiliki sikap oportunis
dan hipokrit. Hal-hal buruk tersebut jika terus dipertahankan maka akibatnya
akan merusak karakter dan moral mereka sendiri. Kehancuran karakter serta moral
dari generasi penerus inilah yang membuat bangsa ini makin sulit lepas dari
masalah multidimensional yang terus mendera.
Melihat kondisi yang begitu buruk ini,
menjadi suatu kewajiban kita bersama untuk merubah itu semua. Saya sendiri
berpendapat jika membangun suatu kesadaran kolektif adalah sebuah solusi yan
tepat untuk lepas dari belenggu pragmatisme pendidikan. Sebagai insan
pendidikan, adalah hal sebuah kewajiban bagi kita untuk memahami makna esensial
dari pendidikan itu sendiri. Jika kita dapat memahaminya, kemudian kita harus
bisa mengaplikasikan hal tersebut di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Apabila hal tersebut terwujud, maka bukanlah hal yang mustahil lagi jika kelak
bangsa ini akan memiliki generasi yang berkarakter dan bermoral yang bisa
melepaskan bangsa ini dari masalah-masalah yang masih muncul saat ini. Percayalah.
0 komentar:
Posting Komentar