Oleh: Miftahul Habib F/Pendidikan Sejaran 2011
Ketua DPM FIS UNY 2014
Setiap tahun tanggal 20 Mei kita
memperingati hari kebangkitan nasional. Tanggal tersebut dipilih berdasarkan
hari lahir organisasi Boedi Oetomo. Organisasi ini dianggap sebagai perintis
pergerakan nasional dengan dr. Wahidin Soedirohoesodo sebagai tokoh utamanya.
Meskipun demikian ada beberapa catatan mengenai hari kebangkitan nasional versi
resmi ini.
Boedi Oetomo adalah organisasi priyayi Jawa yang bergerak di bidang sosial-kemasyarakatan. Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi yang masih sangat kuat corak primordial kejawaanya. Savitri Scherer dalam bukunya Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menuliskan cita-cita Boedi Oetomo adalah “mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa”. Hal tersebut mengindikasikan jika gerakan Boedi Oetomo masih sangat terbatas untuk memajukan priyayi Jawa ditengah-tengah masa politik etis.
Boedi Oetomo adalah organisasi priyayi Jawa yang bergerak di bidang sosial-kemasyarakatan. Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi yang masih sangat kuat corak primordial kejawaanya. Savitri Scherer dalam bukunya Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menuliskan cita-cita Boedi Oetomo adalah “mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa”. Hal tersebut mengindikasikan jika gerakan Boedi Oetomo masih sangat terbatas untuk memajukan priyayi Jawa ditengah-tengah masa politik etis.
dr. Wahidin yang dianggap sebagai tokoh
terpenting Boedi Oetomo juga masih sangat kental dengan cita-cita memajukan
kaum priyayi. Sebelum mendirikan Boedi Oetomo, dr. Wahidin menjadi redaktur
surat kabar Retnodoemilah yang menggunakan bahasa Jawa dan Melayu sebagai
bahasa pengantarnya. Bagaimanapun Retnodoemilah masih mencerminkan pandangan
priyayi terhadap masalah-masalah yang mengangkut status mereka saja. dr.
Wahidin sama sekali belum belum menyinggung masalah pribumi secara keseluruhan
apalagi mengenai kebangsaan dalam Boedi Oetomo maupun Retnodoemilah. Selain
itu, gerakan baik dr. Wahidin maupun Boedi Oetomo masih bersifat sangat
kooperatif terhadap pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial malah menganggap
jika Boedi Oetomo merupakan salah satu bukti keberhasilan program politik etis.
Itu artinya gerakan Boedi Oetomo yang bersifat eksklusif ini masih belum tepat
jika dijadikan sebagai tonggak kebangkitan nasional.
Perbedaan pendapat mengenai kapan
sebenarnya pergerakan kebangsaan sebenarnya telah menjadi pembahasan banyak
kalangan. Sejumlah tokoh memiliki pandangan masing-masing mengenai kapan
sebenarnya pergerakan kebangsaan itu dimulai. Pramoedya Ananta Toer misalnya,
ia menganggap jika pergerakan menuju kebangsaan Indonesia sesungguhnya dimulai
sejak R.A Kartini memperjuangkan emansipasi wanita pada awal dekade pertama abad
XX. Pram-yang memaknai jika nasionalisme Indonesia merupakan hasil gencetan
(perlawanan) terhadap tekanan feodalisme Timur dan Imperialisme
Barat-berpendapat jika Kartini telah berhasil mendobrak nilai-nilai feodalisme
Jawa sebagai jalan awal menuju pergerakan kebangsaan Indonesia.
Sejumlah tokoh juga memiliki pandangan
lain mengenai hal ini. Asvi Warman Adam misalnya, dalam bukunya yang berjudul Seabad Kontroversi Sejarah malah
membahas polemik kebangkitan nasional ini dalam satu bab tersendiri. Asvi berpendapat
jika Boedi Oetomo masih kurang pas jika dijadikan sebagai tonggak pergerakan
nasional. Ia lebih cenderung memilih berdirinya Sarekat Islam sebagai tonggak
awal pergerakan nasional Indonesia. Asvi memandang jika Sarekat Islam dapat
dianggap sebagai representasi gerakan total rakyat pribumi di Hindia Belanda
pada waktu itu. Sarekat Islam merupakan sebuah organisasi terbuka dimana setiap
orang bisa ikut bergabung disana. Sarekat Islam juga bergerak tidak hanya
dibidang sosial kemasyarakatan saja, tetapi juga bergerak pada bidang politik,
pendidikan serta ekonomi. Pemerintah Hindia Beanda bahkan memberikan perhatian
tersendiri terhadap gerakan Sarekat Islam ini. Hal ini menunjukkan jika Sarekat
Islam dipandang sebagai ancaman nyata bagi pemerintah kolonial. Asvi memandang
jika Sarekat Islam merupakan representasi perlawanan total orang pribumi
terhadap pemerintah kolonial sehingga pantas dijadikan sebagai tonggak awal
kebangkitan nasional Indonesia.
Saya sendiri memiliki pendapat yang
berbeda dengan Pram maupun Asvi. Saya lebih melihat jika tonggak kebangkitan
nasional Indonesia dimulai sejak diterbitkanya surat kabar Medan Prijaji
tanggal 1 Januari 1907. Medan Prijaji memiliki gagasan nasionalisme (meskipun
masih “primitif”) yang lebih jelas daripada Boedi Oetomo bahkan Sarekat Islam
sekalipun. Medan Prijaji mencantumkan gagasan tersebut dalam sloganya yaitu:
“SOEARA
bagai sekalian Radja-radja, Bangsawan asali dan fikiran, Prijaji dan saudagar
Boemiputra dan officier-officier serta saudagar-saudagar dari bangsa jang
terperentah laenja jang dipersamakan dengan Anaknegri, di seloeroh Hindia
Olanda.”
Konsep mengenai bangsa terperintah di
Hindia Belanda ini yang menjadi cikal-bakal konsep kebangsaan Indonesia.
Redakturnya, Tirto Adhi Soerjo sendiri merupakan tokoh pers yang kritis
terhadap pemerintah kolonial Belanda. Wajar jika Medan Prijaji hanya bertahan
hingga tahun 1912 akibat berbagai kasus dengan pemerintah kolonial yang menerpa
surat kabar ini maupun Tirto Adhi Soerjo. Beberapa fakta tersebut yang menjadi
alasan saya mengapa kemunculan Medan Prijaji lebih tepat jika dijadikan sebagai
tonggak awal pergerakan nasional.
Pada akhirnya kita harus benar-benar
menyikapi polemik ini secara serius. Kebangkitan nasional jangan hanya
dipandang sebagai kegiatan seremonial belaka, tanpa kita pahami akar historis
peristiwa tersebut. Kajian lebih lanjut mengenai kebangkitan nasional ini perlu
digalakkan. Hal ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam ketersesatan
sejarah karena hanya bisa mengonsumsi sejarah versi resmi pemerintah tanpa
mampu mengkritisinya. Hal ini bukan hanya tanggung jawab sejarawan akademik,
tetapi sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk memikirkan kembali
kebangkitan nasional bangsa kita sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar