08.52
0




Oleh: Miftahul Habib F/Pendidikan Sejaran 2011
Ketua DPM FIS UNY 2014 

Setiap tahun tanggal 20 Mei kita memperingati hari kebangkitan nasional. Tanggal tersebut dipilih berdasarkan hari lahir organisasi Boedi Oetomo. Organisasi ini dianggap sebagai perintis pergerakan nasional dengan dr. Wahidin Soedirohoesodo sebagai tokoh utamanya. Meskipun demikian ada beberapa catatan mengenai hari kebangkitan nasional versi resmi ini.

Boedi Oetomo adalah organisasi priyayi Jawa yang bergerak di bidang sosial-kemasyarakatan. Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi yang masih sangat kuat corak primordial kejawaanya. Savitri Scherer dalam bukunya Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menuliskan cita-cita Boedi Oetomo adalah “mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa”. Hal tersebut mengindikasikan jika gerakan Boedi Oetomo masih sangat terbatas untuk memajukan priyayi Jawa ditengah-tengah masa politik etis.

dr. Wahidin yang dianggap sebagai tokoh terpenting Boedi Oetomo juga masih sangat kental dengan cita-cita memajukan kaum priyayi. Sebelum mendirikan Boedi Oetomo, dr. Wahidin menjadi redaktur surat kabar Retnodoemilah yang menggunakan bahasa Jawa dan Melayu sebagai bahasa pengantarnya. Bagaimanapun Retnodoemilah masih mencerminkan pandangan priyayi terhadap masalah-masalah yang mengangkut status mereka saja. dr. Wahidin sama sekali belum belum menyinggung masalah pribumi secara keseluruhan apalagi mengenai kebangsaan dalam Boedi Oetomo maupun Retnodoemilah. Selain itu, gerakan baik dr. Wahidin maupun Boedi Oetomo masih bersifat sangat kooperatif terhadap pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial malah menganggap jika Boedi Oetomo merupakan salah satu bukti keberhasilan program politik etis. Itu artinya gerakan Boedi Oetomo yang bersifat eksklusif ini masih belum tepat jika dijadikan sebagai tonggak kebangkitan nasional.

Perbedaan pendapat mengenai kapan sebenarnya pergerakan kebangsaan sebenarnya telah menjadi pembahasan banyak kalangan. Sejumlah tokoh memiliki pandangan masing-masing mengenai kapan sebenarnya pergerakan kebangsaan itu dimulai. Pramoedya Ananta Toer misalnya, ia menganggap jika pergerakan menuju kebangsaan Indonesia sesungguhnya dimulai sejak R.A Kartini memperjuangkan emansipasi wanita pada awal dekade pertama abad XX. Pram-yang memaknai jika nasionalisme Indonesia merupakan hasil gencetan (perlawanan) terhadap tekanan feodalisme Timur dan Imperialisme Barat-berpendapat jika Kartini telah berhasil mendobrak nilai-nilai feodalisme Jawa sebagai jalan awal menuju pergerakan kebangsaan Indonesia.

Sejumlah tokoh juga memiliki pandangan lain mengenai hal ini. Asvi Warman Adam misalnya, dalam bukunya yang berjudul Seabad Kontroversi Sejarah malah membahas polemik kebangkitan nasional ini dalam satu bab tersendiri. Asvi berpendapat jika Boedi Oetomo masih kurang pas jika dijadikan sebagai tonggak pergerakan nasional. Ia lebih cenderung memilih berdirinya Sarekat Islam sebagai tonggak awal pergerakan nasional Indonesia. Asvi memandang jika Sarekat Islam dapat dianggap sebagai representasi gerakan total rakyat pribumi di Hindia Belanda pada waktu itu. Sarekat Islam merupakan sebuah organisasi terbuka dimana setiap orang bisa ikut bergabung disana. Sarekat Islam juga bergerak tidak hanya dibidang sosial kemasyarakatan saja, tetapi juga bergerak pada bidang politik, pendidikan serta ekonomi. Pemerintah Hindia Beanda bahkan memberikan perhatian tersendiri terhadap gerakan Sarekat Islam ini. Hal ini menunjukkan jika Sarekat Islam dipandang sebagai ancaman nyata bagi pemerintah kolonial. Asvi memandang jika Sarekat Islam merupakan representasi perlawanan total orang pribumi terhadap pemerintah kolonial sehingga pantas dijadikan sebagai tonggak awal kebangkitan nasional Indonesia.

Saya sendiri memiliki pendapat yang berbeda dengan Pram maupun Asvi. Saya lebih melihat jika tonggak kebangkitan nasional Indonesia dimulai sejak diterbitkanya surat kabar Medan Prijaji tanggal 1 Januari 1907. Medan Prijaji memiliki gagasan nasionalisme (meskipun masih “primitif”) yang lebih jelas daripada Boedi Oetomo bahkan Sarekat Islam sekalipun. Medan Prijaji mencantumkan gagasan tersebut dalam sloganya yaitu:
 SOEARA bagai sekalian Radja-radja, Bangsawan asali dan fikiran, Prijaji dan saudagar Boemiputra dan officier-officier serta saudagar-saudagar dari bangsa jang terperentah laenja jang dipersamakan dengan Anaknegri, di seloeroh Hindia Olanda.”

Konsep mengenai bangsa terperintah di Hindia Belanda ini yang menjadi cikal-bakal konsep kebangsaan Indonesia. Redakturnya, Tirto Adhi Soerjo sendiri merupakan tokoh pers yang kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda. Wajar jika Medan Prijaji hanya bertahan hingga tahun 1912 akibat berbagai kasus dengan pemerintah kolonial yang menerpa surat kabar ini maupun Tirto Adhi Soerjo. Beberapa fakta tersebut yang menjadi alasan saya mengapa kemunculan Medan Prijaji lebih tepat jika dijadikan sebagai tonggak awal pergerakan nasional.

Pada akhirnya kita harus benar-benar menyikapi polemik ini secara serius. Kebangkitan nasional jangan hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial belaka, tanpa kita pahami akar historis peristiwa tersebut. Kajian lebih lanjut mengenai kebangkitan nasional ini perlu digalakkan. Hal ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam ketersesatan sejarah karena hanya bisa mengonsumsi sejarah versi resmi pemerintah tanpa mampu mengkritisinya. Hal ini bukan hanya tanggung jawab sejarawan akademik, tetapi sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk memikirkan kembali kebangkitan nasional bangsa kita sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar