Oleh: Libriana Candra Dewi/Pendidikan Sosiologi 2011
Komisi 3 DPM KM FIS UNY 2014
Inilah aku, Jelita. Tidak ada yang
spesial dengan diriku. Hanya namaku mungkin yang terdengar spesial di
telinga beberapa orang. Itulah nama pemberian almarhum ibuku dengan
harapan anaknya ini menjadi anak yang cantik jelita. Baik dari segi
paras, tutur kata, dan perilakunya.
Namun sayang, menurut orang-orang aku
tidaklah cantik. Aku tak tahu secara pasti sejelek apa wajahku, karena
yang kutahu sejak lahir aku tidak bisa melihat bagaimana bentuk wajahku
sendiri. Ya, aku terlahir dengan cacat penglihatan alias buta. Sebuah
kata yang membuatku merasa terasingkan bagaikan alien di antara
manusia-manusia normal lainnya. Terlebih ketika ayahku meninggal dunia
karena sakit keras dua tahun setelah kepergian ibu.
Pernah suatu saat ketika aku duduk di bangku TK, aku diejek oleh beberapa temanku yang dengan kerasnya memanggilku “buta”, “jelek” serta tidak jarang aku mendapat perlakuan kasar dari teman-teman sekolahku. Sampai pernah dengan polosnya aku bertanya pada nenek,
“Nenek, apakah aku sejelek seperti yang teman-teman katakan padaku?”
“Tidak Jelita. Kamu cantik, bahkan sangat cantik. Karena mutiara cantikmu berasal dari sini. Melebihi teman-temanmu di luar sana.” Jawab nenek sambil meletakkan telapak tangannya di depan dadaku.
Kalimat dan perlakuan hangat seperti itu dari neneklah yang membuatku menjadi anak yang tumbuh kuat. Aku tidak bisa melihat seberapa cantik dan seberapa hangat nenekku, yang jelas aku tahu bahwa nenek adalah bidadari yang Tuhan berikan untuk menjaga dan menemani serta menjadi saksi kisah hidupku.
Aku beranjak tumbuh besar. Tahun demi tahun aku lalui dengan penuh rasa semangat dan tabah sebagai bagian dari apa yang telah keluargaku ajarkan kepadaku. Walaupun ayah dan ibu telah meninggalkanku sejak kecil, kakek dan nenek yang membesarkanku dengan penuh kasih sayanglah yang telah memberikan segalanya kepadaku.
Tidak bisa melihat bukan berarti aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku punya mimpi, dan untuk menggapai mimpiku itu aku memang memerlukan usaha yang sangat keras serta cobaan yang tak sedikit pula. Mimpiku mungkin terdengar sederhana bagi orang lain yang mendengarkannya. Tapi bagiku, itulah mimpi besarku.
“Jelita, apa kamu punya mimpi?” Tanya ibu guru Sosiologi kepadaku.
“Punya, ibu.” Jawabku semangat.
“Kalau punya, apa mimpimu, nak?”
“Aku ingin menjadi guru yang luar biasa ibu.”
“Guru yang luar biasa seperti apa?”
“Guru yang menyenangkan, bermanfaat, serta guru yang mampu membimbing siswanya untuk kelak menjadi orang-orang yang luar biasa pula, seperti ibu.” Terangku panjang lebar.
Tidak ada lagi tangis sendu ketika pulang sekolah. karena kini memang sudah tak aku temukan lagi. Pahit masa kecil ketika aku diejek oleh teman-teman sekolah ataupun teman bermainku kini sudah tidak ada lagi, dan kutemukan apa itu arti dari proses kehidupan.
Hidupku penuh warna, tiga tahun masaku di SMA adalah saat di mana aku mendapatkan sedikit demi sedikit kumpulan warna untuk menjadi pelangi. Entah sebenarnya warna pelangi itu seperti apa, tapi aku rasa aku dapat merasakan dan membayangkan bagaimana indahnya rasa itu di dalam hatiku. Salah satunya adalah karena sahabat-sahabatku.
-----------#####----------
Pernah suatu saat ketika aku duduk di bangku TK, aku diejek oleh beberapa temanku yang dengan kerasnya memanggilku “buta”, “jelek” serta tidak jarang aku mendapat perlakuan kasar dari teman-teman sekolahku. Sampai pernah dengan polosnya aku bertanya pada nenek,
“Nenek, apakah aku sejelek seperti yang teman-teman katakan padaku?”
“Tidak Jelita. Kamu cantik, bahkan sangat cantik. Karena mutiara cantikmu berasal dari sini. Melebihi teman-temanmu di luar sana.” Jawab nenek sambil meletakkan telapak tangannya di depan dadaku.
Kalimat dan perlakuan hangat seperti itu dari neneklah yang membuatku menjadi anak yang tumbuh kuat. Aku tidak bisa melihat seberapa cantik dan seberapa hangat nenekku, yang jelas aku tahu bahwa nenek adalah bidadari yang Tuhan berikan untuk menjaga dan menemani serta menjadi saksi kisah hidupku.
Aku beranjak tumbuh besar. Tahun demi tahun aku lalui dengan penuh rasa semangat dan tabah sebagai bagian dari apa yang telah keluargaku ajarkan kepadaku. Walaupun ayah dan ibu telah meninggalkanku sejak kecil, kakek dan nenek yang membesarkanku dengan penuh kasih sayanglah yang telah memberikan segalanya kepadaku.
Tidak bisa melihat bukan berarti aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku punya mimpi, dan untuk menggapai mimpiku itu aku memang memerlukan usaha yang sangat keras serta cobaan yang tak sedikit pula. Mimpiku mungkin terdengar sederhana bagi orang lain yang mendengarkannya. Tapi bagiku, itulah mimpi besarku.
“Jelita, apa kamu punya mimpi?” Tanya ibu guru Sosiologi kepadaku.
“Punya, ibu.” Jawabku semangat.
“Kalau punya, apa mimpimu, nak?”
“Aku ingin menjadi guru yang luar biasa ibu.”
“Guru yang luar biasa seperti apa?”
“Guru yang menyenangkan, bermanfaat, serta guru yang mampu membimbing siswanya untuk kelak menjadi orang-orang yang luar biasa pula, seperti ibu.” Terangku panjang lebar.
Tidak ada lagi tangis sendu ketika pulang sekolah. karena kini memang sudah tak aku temukan lagi. Pahit masa kecil ketika aku diejek oleh teman-teman sekolah ataupun teman bermainku kini sudah tidak ada lagi, dan kutemukan apa itu arti dari proses kehidupan.
Hidupku penuh warna, tiga tahun masaku di SMA adalah saat di mana aku mendapatkan sedikit demi sedikit kumpulan warna untuk menjadi pelangi. Entah sebenarnya warna pelangi itu seperti apa, tapi aku rasa aku dapat merasakan dan membayangkan bagaimana indahnya rasa itu di dalam hatiku. Salah satunya adalah karena sahabat-sahabatku.
-----------#####----------
Kini
aku telah tumbuh dewasa. Hari ini aku sengaja bangun lebih pagi untuk
menghirup udara segar sekalian sedikit berolahraga di sekitar rumah. Aku
selalu meluangkan minggu pagiku untuk sedikit jalan-jalan menikmati
sejuknya udara pagi yang belum banyak polusi.
Sepanjang perjalanan aku selalu menyimak apapun itu yang terdengar di telingaku. Suara ibu-ibu yang sedang teriak memarahi anaknya yang belum juga bangun, suara gerombolan laki-laki yang mungkin sebaya denganku sedang membicarakan segalanya tentang JKT48, suara anak-anak SD yang sedang bersambung telepon dengan temannya, sampai dengan suara mbak-mbak yang sedang ngobrol genit dengan mas-mas menggunakan bahasa “ngapak” yang aku sendiri tak paham arti dari pembicaraan mereka.
Lucu, tapi spontan aku berkata, “Begitu Kayanya Indonesia”. Sebuah kalimat yang akhirnya menjadi kalimat yang selalu aku katakan kepada siswa-siswaku, dan orang-orang yang ada di sekitarku ketika kini mimpiku tersebut telah ada di genggaman tanganku.
Sepanjang perjalanan aku selalu menyimak apapun itu yang terdengar di telingaku. Suara ibu-ibu yang sedang teriak memarahi anaknya yang belum juga bangun, suara gerombolan laki-laki yang mungkin sebaya denganku sedang membicarakan segalanya tentang JKT48, suara anak-anak SD yang sedang bersambung telepon dengan temannya, sampai dengan suara mbak-mbak yang sedang ngobrol genit dengan mas-mas menggunakan bahasa “ngapak” yang aku sendiri tak paham arti dari pembicaraan mereka.
Lucu, tapi spontan aku berkata, “Begitu Kayanya Indonesia”. Sebuah kalimat yang akhirnya menjadi kalimat yang selalu aku katakan kepada siswa-siswaku, dan orang-orang yang ada di sekitarku ketika kini mimpiku tersebut telah ada di genggaman tanganku.
Diambil dari: http://librianacandraa.blogspot.com/
0 komentar:
Posting Komentar