Oleh: Miftahul Habib F/Pendidikan Sejarah
Ketua DPM KM FIS UNY 2014
Ketua DPM KM FIS UNY 2014
Tahun 1960 Mohammad Hatta menuliskan sebuah artikel berjudul Demokrasi Kita. Hatta menuangkan keprihatinanya terhadap pelaksanaan demokrasi Indonesia melalui tulisanya tersebut. Bagi Hatta, pelaksanaan demokrasi Indonesia telah melenceng dari cita-cita luhur bangsa ini.
Hatta
mengkritik era Parlementer (1950-1959) sebagai suatu era dimana para penguasa
yang memegang jabatan dalam pemerintahan banyak menyalahgunakan kekuasaanya untuk
kepentingan golongan sehingga melupakan rakyat. Lebih lanjut, ia juga
mengkritik keputusan presiden Soekarno pada tahun 1959 untuk mengembalikan
konstitusi negara ke UUD 1945 dan membubarkan Konstituante yang mengawali era
Demokrasi Terpimpin sebagai suatu bentuk kediktatoran.
Hatta tidak hanya pandai mengkritik. Hatta-yang
telah mundur dari jabatan wakil presiden sejak 1956, dengan jelas menyerukan
kepada para pemimpin negara pada saat itu untuk kembali kepada demokrasi
Indonesia. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang bertujuan untuk
menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Demokrasi Indonesia menurut Hatta harus melingkupi
tiga aspek. Pertama, demokrasi Indonesia harus sesuai dengan sosialisme Barat
dimana dasar-dasar kemanusiaan menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi, kedua
demokrasi Indonesia harus sesuai dengan nilai-nilai Islam dimana persaudaraan
antar sesama makhluk Tuhan menjadi sesuatu yang diutamakan, dan terakhir bahwa
masyarakat Indonesia harus dibentuk berdasarkan asas kolektivisme dan bukan
individualisme. Perpaduan ketiga aspek tersebut yang kemudian menjadi konsep
dasar demokrasi Indonesia. Melalui demokrasi Indonesia yang dilaksanakan secara
gotong-royong inilah cita-cita luhur bangsa Indonesia seperti yang tertuang
dalam pembukaan UUD 1945 dapat terwujud.
Tulisan Hatta memang telah berusia setengah abad
lebih, namun tak ada salahnya jika kita merefleksikan jalanya demokrasi di era
reformasi ini. Pasca runtuhnya rezim Orde Baru, rakyat Indonesia mengalami
euforia yang luar biasa terutama dalam bidang politik. Rakyat seolah ingin
berpartisipasi aktif dalam setiap proses politik, sesuatu yang langka di era
Orde Baru. Tak heran jika partai politik, sebagai satu-satunya sarana politik
praktis tumbuh pesat bak jamur di musim hujan. Pemilu pertama di era reformasi
yang diselenggarakan tahun 1999 bahkan diikuti oleh 48 partai. Sebuah rekor
peserta pemilu di Indonesia.
Idealnya partisipasi politik rakyat yang diwakili
oleh partai politik ini akan mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Akan tetapi
kenyataan yang terjadi justru kebalikanya. Kader partai politik yang duduk di
DPR ataupun kabinet justru mengingkari amanah rakyat yang dipegangnya. Saat
rakyat sedang sibuk bekerja berpeluh keringat untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, kader-kader partai politik yang duduk di pemerintahan justru sibuk
memikirkan bagaimana menutup tingginya biaya politik untuk mencapai kekuasaan.
Alih-alih menggunakan uang rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan, mereka
justru menyalahgunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi dan partai.
Suatu kondisi yang sangat bertentangan dengan tujuan demokrasi itu sendiri.
Parahnya hal tersebut terus berlangsung hingga saat ini.
Wajah buruk demokrasi kita tentu menciptakan iklim
pemerintahan yang sama bobroknya. Tidak heran ketika para kader partai yang
sekarang berada di pemerintahan justru lebih mementingkan diri serta partainya.
Rakyat selalu menjadi pertimbangan kesekian dalam pengambilan keputusan. Hatta
sendiri menyebutnya kondisi seperti ini dengan ungkapan “masuk partai bukan
karena keyakinan, akan tetapi masuk partai karena ingin jaminan”.
Kini pemilu 2014 semakin dekat dan rakyat masih
mengharapkan perbaikan di segala aspek kehidupan. Rakyat sudah bosan akan janji
yang diobral politisi partai politik selama masa kampanye. Perubahan ke arah
yang lebih baik hanya akan terwujud apabila kita kembali memahami dan
mengamalkan kembali nilai-nilai demokrasi Indonesia seperti yang disampaikan
Hatta. Apabila nilai-nilai tersebut kembali diamalkan maka kita boleh
berkeyakinan bahwa bangsa Indonesia akan semakin dekat dengan cita-cita luhur
yang sedari dulu dicita-citakan founding
father kita termasuk Hatta. Semoga ini tidak hanya akan menjadi mimpi di
siang bolong.
0 komentar:
Posting Komentar